Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Resmi Dibuka, Angkat Budaya, Iman, dan Ekonomi Kreatif

Terkini 12 Aug 2026 16:58 5 min read 34 views By Pendim 1716/Tlk

Share berita ini

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Resmi Dibuka, Angkat Budaya, Iman, dan Ekonomi Kreatif
Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Resmi Dibuka, Angkat Budaya, Iman, dan Ekonomi Kreatif   KARUBAGA, TOLIKARA — Festival Etnik Religi K...

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Resmi Dibuka, Angkat Budaya, Iman, dan Ekonomi Kreatif

 

KARUBAGA, TOLIKARA — Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara (FERT) Tahun 2026 resmi dibuka di Lapangan Pendidikan, Jalan Perintis, Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Rabu (12/8/2026). Mengusung tema “Merawat Budaya – Menguatkan Iman – Membangun Tolikara”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya, nilai-nilai religi, pariwisata, serta ekonomi kreatif masyarakat Tolikara.

 

Pembukaan festival berlangsung sekitar pukul 12.00 hingga 16.00 WIT dan dipimpin langsung oleh Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., dengan dihadiri sekitar 450 orang.

 

Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Wakil Bupati Tolikara Yotam Wonda, S.H., M.Si.; Pangkoops TNI Habema Mayjen TNI Yudha Airlangga; Dansatgas Habema Brigjen TNI Persada Alam; Danrem 172/PWY Brigjen TNI Robby Suryadi, S.Sos.; Asops Koops TNI Habema Kolonel Inf Romadhon; Kasiops Korem 172/PWY Kolonel Inf Syarifuddin Liwang; Sekda Kabupaten Tolikara Dr. Yosua Noak Douw, S.Sos., M.Si., M.A.; Dandim 1716/Tolikara Letkol Inf Derek S. Rumbino; Kapolres Tolikara Kompol Robert Hitipeuw, S.H., M.H.; serta sejumlah pejabat OPD Pemerintah Kabupaten Tolikara.

 

Mengawali Festival dengan Ibadah

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah singkat yang dipimpin Ketua Wilayah GIDI Tolikara, Pdt. Yeremias Wandik, S.Th. Selanjutnya seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

 

Ketua Panitia FERT 2026, Sony Imbiri, dalam sambutannya menyampaikan bahwa festival dilaksanakan sebagai bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Tolikara bersama masyarakat untuk melestarikan nilai budaya dan religi, memperkenalkan kekayaan seni budaya daerah, serta mendorong perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

 

Festival yang berlangsung pada 12–13 Agustus 2026 tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah, gereja, tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, pelaku seni budaya, pelaku UMKM hingga masyarakat umum.

 

Sebanyak 17 kelompok pemuda gereja dan sekitar 150 pelajar SD, SMP, dan SMA se-Karubaga turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan.

 

Bupati: Iman Memberikan Arah, Budaya Memberikan Akar

 

Bupati Tolikara Willem Wandik mengatakan Festival Etnik Religi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan iman, budaya, pendidikan, pariwisata dan ekonomi kreatif.

 

“Iman memberikan arah, sementara budaya memberikan akar,” demikian inti pesan Bupati dalam sambutannya.

 

Menurutnya, budaya menjaga ingatan, identitas, bahasa, persaudaraan serta penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan, sementara iman memberikan landasan kasih dan keselamatan.

 

Willem Wandik juga menekankan pentingnya tata kelola festival yang transparan dan bertanggung jawab, keselamatan seluruh peserta, keramahan terhadap tamu, keakuratan narasi sejarah dan budaya, serta keterlibatan generasi muda dan masyarakat kampung.

 

Ia meminta seluruh pihak menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan selama festival berlangsung. Karubaga, kata dia, harus menjadi kawasan yang bersih, aman dan ramah bagi seluruh pengunjung.

 

Anak Muda Jadi Pelaku Utama

 

Salah satu penampilan yang mendapat perhatian adalah pertunjukan kolosal ukulele oleh 150 pelajar SD, SMP dan SMA.

 

Bupati memberikan apresiasi kepada para pelajar karena tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai pelaku utama dalam pelestarian budaya dan pengembangan kreativitas generasi muda.

 

Selain pertunjukan ukulele, pembukaan FERT 2026 juga dimeriahkan dengan Tarian Kolosal Sejarah Masuknya Injil di Tolikara serta Lendawai, tradisi ratapan dan syair perjumpaan yang menggambarkan kedalaman nilai sosial dan budaya masyarakat Tolikara.

 

Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Tolikara kepada masyarakat luas sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mempelajari dan meneruskan warisan budaya daerah.

 

Mendorong Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat

 

FERT 2026 juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Tolikara mendorong keterlibatan mama-mama, pemuda, petani, peternak, pengrajin, seniman, pelaku kuliner, pengelola penginapan, pengemudi, fotografer, pemandu wisata dan pelaku ekonomi kreatif.

 

Pameran produk UMKM dan ekonomi kreatif menjadi salah satu bagian penting festival. Produk pangan lokal, kerajinan, noken, ukiran, busana, hasil kebun serta berbagai produk masyarakat diharapkan dapat semakin dikenal oleh pengunjung.

 

Bupati juga menegaskan bahwa promosi Tolikara harus dilakukan secara bermartabat dengan menampilkan potensi daerah dari sisi iman, budaya, alam, sejarah dan kreativitas masyarakat.

 

Pesan Perdamaian dari Lembah Toli

 

Dalam sambutannya, Willem Wandik mengajak seluruh masyarakat menjadikan FERT sebagai festival perdamaian.

 

Perbedaan denominasi gereja, kampung, distrik, suku, bahasa, organisasi maupun latar belakang sosial, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persatuan masyarakat Tolikara.

 

Ia juga mengajak masyarakat menyelesaikan persoalan melalui dialog, musyawarah adat, pelayanan gereja, mediasi pemerintah dan hukum yang adil serta menjauhkan generasi muda dari minuman keras, narkoba, perjudian dan kekerasan.

 

“Dari Lembah Toli kita harus mengirimkan pesan yang berbeda kepada dunia, bukan pesan ketakutan, tetapi pesan kasih; bukan pesan kebencian, tetapi pengampunan; bukan pesan perpecahan, tetapi persatuan,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan Bupati.

 

Festival Berbasis Budaya dan Lingkungan

 

Selain menjaga budaya dan memperkuat nilai religi, FERT 2026 juga membawa pesan perlindungan lingkungan.

 

Pemerintah Kabupaten Tolikara mengajak masyarakat menjaga hutan, mata air, sungai dan lingkungan sekitar. Panitia juga didorong menyediakan fasilitas kebersihan, sanitasi, air bersih dan pengelolaan sampah selama kegiatan berlangsung.

 

Festival diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan dua hari, tetapi menjadi awal pembentukan agenda budaya dan wisata yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

 

Resmi Dibuka

 

Setelah rangkaian sambutan, pada pukul 14.11 WIT Bupati Tolikara Willem Wandik secara resmi membuka Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara Tahun 2026.

 

Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kolosal ukulele oleh para pelajar, Tarian Kolosal Sejarah Masuknya Injil di Tolikara dan Lendawai.

 

Seluruh rangkaian kegiatan pembukaan berakhir sekitar pukul 16.00 WIT dalam keadaan aman, lancar dan kondusif.

 

Antusiasme masyarakat dan pengunjung terhadap pelaksanaan Festival Etnik Religi Tolikara 2026 terlihat tinggi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang semakin berkembang serta memperkuat posisi Tolikara sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya, nilai religi, potensi wisata dan kreativitas masyarakat.

 

FERT 2026 menjadi pesan dari Karubaga bahwa budaya dapat dirawat, iman dapat dikuatkan, perdamaian dapat dijaga, dan Tolikara dapat dibangun bersama melalui kekuatan masyarakatnya sendiri.

Nawi Arigi News